cerpen singkat tentang sekolah
Cerpen Singkat Tentang Sekolah: Panggung Kecil Kehidupan
Judul: Aroma Kapur dan Mimpi yang Tertinggal
Pukul 06.30. Aroma kapur tulis menusuk hidung, bercampur dengan bau karbol yang khas. Bagi sebagian orang, itu adalah aroma neraka. Bagi Rina, itu adalah aroma nostalgia. Ia berdiri di depan gerbang SMA Garuda, sekolah yang tiga tahun lalu menjadi saksi bisu perjalanan remajanya. Kini, ia kembali, bukan sebagai siswi, melainkan sebagai alumni yang diundang dalam acara reuni.
Rina menarik napas dalam-dalam. Gerbang besi itu tampak lebih kecil dari yang diingatnya. Di balik gerbang, tampak lapangan upacara yang dipenuhi siswa-siswi berseragam putih abu-abu. Senyum Rina mengembang. Ia ingat betul betapa ia membenci upacara bendera setiap hari Senin. Panas terik, pidato kepala sekolah yang membosankan, dan seragam yang terasa gatal. Namun, kini, semua itu terasa lucu dan dirindukan.
Langkah Rina membawanya ke kantin sekolah. Dulu, kantin ini adalah surga dunia. Mie ayam Bu Siti yang melegenda, es teh manis yang menyegarkan, dan gorengan hangat yang selalu ludes dalam hitungan menit. Rina melihat Bu Siti masih setia di balik gerobak mie ayamnya. Kerutan di wajahnya bertambah, tapi senyumnya tetap sama.
“Nona Siti!” Halo Rina.
Bu Siti mendongak. Matanya menyipit, berusaha mengenali sosok di depannya. “Rina? Ya ampun, Rina! Sudah besar ya kamu sekarang!”
Rina tertawa dan memeluk Bu Siti. Aroma mie ayam Bu Siti langsung membangkitkan kenangan masa lalu. Rina memesan semangkuk mie ayam dan duduk di salah satu bangku panjang. Ia melihat sekeliling. Bangku-bangku itu masih sama, hanya catnya yang sedikit memudar. Dinding kantin penuh dengan coretan-coretan iseng, bukti kreativitas (atau kenakalan) para siswa.
Sambil menikmati mie ayamnya, Rina teringat pada sahabat-sahabatnya: Ani, Budi, dan Chandra. Mereka adalah trio yang tak terpisahkan. Ani, si kutu buku yang selalu mendapat ranking satu. Budi, si jagoan basket yang digilai banyak siswi. Dan Chandra, si badut kelas yang selalu berhasil membuat suasana menjadi ceria.
Mereka bertiga selalu bersama, belajar bersama, bermain bersama, bahkan berantem pun bersama. Mereka memiliki mimpi yang sama: sukses di masa depan dan tetap menjadi sahabat selamanya. Namun, waktu dan jarak telah memisahkan mereka. Ani melanjutkan kuliah di luar negeri, Budi menjadi pengusaha muda yang sukses, dan Chandra memilih menjadi seniman jalanan.
Rina merasa sedikit sedih. Ia merindukan kebersamaan mereka. Ia merindukan masa-masa ketika hidup terasa sederhana dan penuh harapan. Ia merindukan aroma kapur dan mimpi yang tertinggal di sekolah ini.
Setelah menghabiskan mie ayamnya, Rina berjalan menuju kelasnya dulu, XII IPA 1. Pintu kelas itu terbuka lebar. Rina masuk dan melihat sekeliling. Papan tulis masih berdebu, meja dan kursi tertata rapi, dan dinding kelas penuh dengan poster-poster motivasi. Rina berjalan menuju mejanya, meja nomor dua dari depan, di barisan tengah.
Di atas meja itu, Rina menemukan sebuah ukiran kecil berbentuk hati dengan inisial “R + B”. Jantung Rina berdegup kencang. Itu adalah ukiran yang ia buat bersama Budi saat kelas sepuluh. Ia ingat betul betapa mereka berdua malu-malu saat mengukir hati itu. Mereka saling menyukai, tapi terlalu takut untuk mengungkapkan perasaan mereka.
Rina tersenyum getir. Kenangan itu begitu manis dan menyakitkan pada saat yang bersamaan. Ia menyesal tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Budi. Ia menyesal telah membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja.
Tiba-tiba, Rina mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia menoleh dan melihat seorang pria berdiri di ambang pintu. Pria itu tersenyum. Rina terpaku.
“Kebaikan?” tanya Rina ragu.
Pria itu mengangguk. “Hai, Rina. Lama tidak bertemu.”
Rina tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menatap Budi dengan tatapan terkejut. Budi berjalan mendekat dan berdiri di depan Rina.
“Aku tahu kamu akan datang,” kata Budi. “Aku sengaja datang lebih awal.”
Rina masih diam. Dia tidak tahu harus berkata apa.
“Aku… aku selalu mengingatmu, Rina,” lanjut Budi. “Aku selalu mengingat ukiran hati itu.”
Rina menatap Budi dengan mata berkaca-kaca. Ia akhirnya bisa merasakan perasaan yang sama yang ia rasakan saat kelas sepuluh. Perasaan cinta yang tulus dan murni.
“Aku juga, Budi,” kata Rina, lirih. “Aku juga selalu mengingatmu.”
Budi tersenyum dan meraih tangan Rina. “Mungkin, kita bisa memulai dari awal lagi, Rina.”
Rina mengangguk. Ia merasa bahagia. Ia merasa seperti kembali ke masa lalu, ke masa-masa ketika hidup terasa sederhana dan penuh harapan. Ia merasa seperti menemukan kembali aroma kapur dan mimpi yang tertinggal di sekolah ini.
Mereka berdua berdiri di dalam kelas, di depan meja yang terdapat ukiran hati dengan inisial “R + B”. Mereka saling menatap dengan tatapan penuh cinta. Di luar, suara riuh rendah siswa-siswi yang sedang mempersiapkan acara reuni terdengar semakin ramai. Namun, di dalam kelas itu, hanya ada Rina dan Budi, dua orang yang telah menemukan kembali cinta mereka di panggung kecil kehidupan bernama sekolah. Mereka berjanji, kali ini, mereka tidak akan membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja. Mereka akan mengejar mimpi mereka bersama, seperti dulu, ketika mereka masih berseragam putih abu-abu.

